mwcnu-cimsel.my.id, 20 Mei 2026, 18.48 WIB
❝
Cara mensyukuri nikmat yang paling utama adalah dengan 3 Perkara:
Tadzkiru Illallaah (Mengingat Allah)
Tadzkiyatun Nafs (Menjauhi Perbuatan Dosa/Maksiat)
Tawidul Ulum (Mencari Ilmu dan Mengamalkan)
Maka Allah akan menerima syukurnya hamba itu dengan ridho-Nya.
❞
— KH. Mulus Prihadi
(Wakil Rais MWCNU Cimahi Selatan)
“Cara mensyukuri nikmat yang paling utama adalah dengan 3 perkara: Tadzkiru Illallaah (mengingat Allah), Tadzkiyatun Nafs (membersihkan diri dari dosa dan maksiat), dan Ta‘allumul ‘Ulum (mencari ilmu serta mengamalkannya). Maka Allah akan menerima syukur hamba itu dengan ridha-Nya.”
Nikmat yang Allah titipkan kepada manusia bukan hanya harta, kesehatan, ataupun kedudukan. Waktu yang kita hirup setiap hari, hati yang masih mampu merasakan iman, keluarga yang menguatkan, hingga kesempatan untuk bertaubat—semuanya adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, syukur dalam pandangan Islam bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi keadaan hati yang tunduk dan amal yang membuktikan.
Perkara pertama adalah Tadzkiru Illallaah, yaitu senantiasa mengingat Allah. Hati manusia mudah lalai ketika nikmat datang bertubi-tubi. Sering kali manusia merasa semua keberhasilannya lahir dari kecerdasannya sendiri, padahal tanpa izin Allah, langkah kaki pun tidak akan mampu bergerak. Maka dzikir menjadi penjaga hati agar tetap sadar bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Rabb semesta alam. Ketika seseorang membiasakan lisannya basah dengan menyebut nama Allah, hatinya akan lembut, jiwanya menjadi tenang, dan hidupnya terarah. Sebab orang yang mengingat Allah tidak akan mudah sombong ketika diberi, dan tidak mudah putus asa ketika diuji.
Perkara kedua adalah Tadzkiyatun Nafs, membersihkan jiwa dari dosa dan maksiat. Inilah bentuk syukur yang sering dilupakan. Banyak orang menikmati nikmat Allah, tetapi menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat kepada-Nya. Mata dipakai melihat yang haram, lisan digunakan menyakiti sesama, dan hati dipenuhi iri serta kebencian. Padahal hakikat syukur adalah menggunakan nikmat sesuai jalan yang diridhai Allah. Jiwa yang terus dibersihkan akan melahirkan pribadi yang takut berbuat zalim, menjaga kehormatan diri, dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Semakin bersih hati seseorang, semakin mudah cahaya hidayah masuk ke dalam dirinya.
Perkara ketiga adalah Ta‘allumul ‘Ulum, mencari ilmu dan mengamalkannya. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia agar syukurnya tidak salah arah. Banyak orang bersemangat beribadah, tetapi tanpa ilmu akhirnya mudah terjerumus dalam kesalahan. Karena itu, para ulama menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kemuliaan. Namun ilmu tidak cukup hanya disimpan di kepala; ia harus hidup dalam akhlak dan perbuatan. Ilmu yang diamalkan akan melahirkan kebijaksanaan, sementara ilmu tanpa amal hanya menjadi hujjah yang memberatkan di hadapan Allah.
Apabila tiga perkara ini hadir dalam diri seorang hamba—hatinya selalu mengingat Allah, jiwanya berusaha bersih dari maksiat, dan hidupnya dipenuhi ilmu serta amal—maka itulah syukur yang sejati. Dan syukur yang sejati bukan hanya mendatangkan tambahan nikmat, tetapi juga menghadirkan ridha Allah dalam kehidupan. Sebab sebesar apa pun nikmat dunia, semuanya akan terasa kecil dibanding satu anugerah terbesar: ketika Allah ridha kepada hamba-Nya.
Author by Hendro Juniawan
Jl. Melong Asih 91 RT. 06 RW. 26 Kel. Melong, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi, 40534
© MWC NU Cimahi Selatan | 2026 by Hendro Juniawan