mwcnu-cimsel.my.id, 20 Mei 2026, 18.48 WIB
❝
Untuk membangun negeri yang plural dan multikultural, para pemimpin harus memahami konsep Ukhuwwah Insaniyyah dan Ukhuwwah Wathoniyyah. Jika nilai-nilai ini diterapkan, Indonesia akan menjadi negara yang memanusiakan manusia.
❞
— KH. Kgs. Akbar Saman
(Rais MWCNU Cimahi Selatan)
“Untuk membangun negeri yang plural dan multikultural, para pemimpin harus memahami konsep Ukhuwwah Insaniyyah dan Ukhuwwah Wathoniyyah. Jika nilai-nilai ini diterapkan, Indonesia akan menjadi negara yang memanusiakan manusia.”
Sebuah bangsa yang besar tidak hanya dibangun dengan kekuatan ekonomi, megahnya pembangunan, atau tingginya teknologi. Bangsa yang kokoh dibangun di atas hati yang saling menghormati, jiwa yang saling menerima, dan pemimpin yang mampu melihat rakyatnya sebagai manusia yang harus dimuliakan. Di sinilah pentingnya memahami konsep Ukhuwwah Insaniyyah dan Ukhuwwah Wathoniyyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ukhuwwah Insaniyyah adalah persaudaraan kemanusiaan. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan karena sama-sama ciptaan Allah. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan warna kulit bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan tanda kebesaran Allah agar manusia saling mengenal dan saling belajar. Ketika seorang pemimpin memiliki ruh Ukhuwwah Insaniyyah, ia tidak akan memandang rakyat berdasarkan kelompok, golongan, atau kepentingan politik semata. Ia akan melihat setiap air mata rakyat sebagai amanah, setiap penderitaan masyarakat sebagai tanggung jawab, dan setiap ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan untuk dihentikan.
Sedangkan Ukhuwwah Wathoniyyah adalah persaudaraan kebangsaan. Indonesia berdiri bukan karena satu suku, bukan pula karena satu golongan, tetapi karena kesadaran bersama bahwa negeri ini adalah rumah besar yang harus dijaga bersama. Dari Sabang sampai Merauke, dari berbagai adat dan keyakinan, semuanya dipersatukan oleh cita-cita yang sama: hidup damai di tanah air yang merdeka. Maka mencintai bangsa bukan sekadar slogan, tetapi bagian dari menjaga amanah sejarah dan pengorbanan para pendiri negeri.
Ketika dua nilai ini berjalan berdampingan, maka lahirlah kepemimpinan yang adil dan beradab. Pemimpin tidak mudah memecah masyarakat demi kekuasaan, tidak menanam kebencian demi dukungan, dan tidak memperalat perbedaan demi kepentingan sesaat. Sebaliknya, ia akan menjadi peneduh bagi rakyatnya, menghadirkan rasa aman bagi yang lemah, dan membuka ruang hidup yang damai bagi semua kalangan.
Indonesia adalah negeri yang dianugerahi keberagaman luar biasa. Namun keberagaman hanya akan menjadi kekuatan apabila dibimbing dengan kebijaksanaan dan akhlak mulia. Tanpa itu, perbedaan dapat berubah menjadi sumber perpecahan. Karena itulah para pemimpin harus memiliki keluasan hati dan kedalaman ilmu agar mampu merawat persatuan dengan kasih sayang, bukan dengan ketakutan.
Jika nilai Ukhuwwah Insaniyyah dan Ukhuwwah Wathoniyyah benar-benar hidup dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat, maka Indonesia tidak hanya menjadi negara yang maju secara pembangunan, tetapi juga menjadi negeri yang memuliakan manusia, menghargai perbedaan, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dan di situlah hakikat peradaban yang sesungguhnya: ketika manusia diperlakukan bukan karena siapa dia, tetapi karena ia adalah manusia.
Author by Hendro Juniawan
Jl. Melong Asih 91 RT. 06 RW. 26 Kel. Melong, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi, 40534
© MWC NU Cimahi Selatan | 2026 by Hendro Juniawan